Harus Sesuai, Inilah Jenis Infus, Fungsi, dan Efek Sampingnya

Perawatan June 20, 2023 Penulis : Mirna S
Harus Sesuai, Inilah Jenis Infus, Fungsi, dan Efek Sampingnya

Dalam dunia medis, penggunaan infus sangat krusial dalam berbagai kondisi perawatan pasien. Infus dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu cairan kristaloid dan cairan koloid. Kedua jenis ini memiliki peran dan fungsi yang berbeda dalam mendukung proses penyembuhan dan pemulihan pasien.

Cairan Kristaloid

Cairan kristaloid merupakan jenis infus yang paling sering digunakan dalam perawatan di rumah sakit. Ini dipasang langsung ke pembuluh darah dan berfungsi mengembalikan cairan tubuh sekaligus menjaga keseimbangan elektrolit. Kristaloid membantu mengembalikan kadar pH dan berperan dalam proses resusitasi cairan tubuh

  • Saline: Ini adalah cairan kristaloid yang berisikan sodium chloride (NaCl), berfungsi mengembalikan keseimbangan elektrolit dan menghidrasi tubuh. Saline juga mendukung kinerja otot jantung dan sistem saraf.
  • Ringer Laktat: Lebih berperan dalam penggantian cairan dan elektrolit yang hilang. Biasa digunakan pada pasien dengan anemia dan tekanan darah rendah.
  • Plasma-Lyte A: Memiliki klorida lebih rendah, ditujukan untuk pasien yang kekurangan kalium dan magnesium.DekstrosaBerguna untuk mengobati pasien dengan kondisi gula darah yang kurang, memberikan asupan nutrisi dan menjaga keseimbangan hormon insulin.|

Cairan Koloid

Berbeda dengan kristaloid, koloid memiliki molekul yang lebih berat dan terkadang bertahan di pembuluh darah tanpa melewati sel lain. Koloid digunakan dalam kondisi medis yang lebih lanjut dan serius, seperti pada pasien kritis atau yang menjalani operasi.

  • Dekstran: Berfungsi dalam proses penggantian darah dan mencegah tromboemboli setelah operasi.
  • Albumin: Penting untuk pasien dengan kadar albumin rendah, efektif dalam kasus sepsis, transplantasi hati, dan luka bakar berat.
  • Gelatin: Digunakan untuk penanganan anemia, menyediakan protein hewani yang mendukung kecukupan nutrisi pasien.

Dengan memahami perbedaan dan fungsi dari cairan kristaloid dan koloid, praktisi medis dapat lebih efektif dalam menentukan jenis infus yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien.

Efek Samping Cairan Infus 

Sumber Gambar: Canva Pro Collection

Dalam dunia medis, cairan infus memiliki banyak fungsi dalam perawatan dan pemulihan pasien.  Efektivitas ini mencapai nilai tinggi mengingat penggunaannya yang ada di bawah tim medis profesional. Meskipun begitu, terkadang tetap terjadi efek samping dari penggunaan infus.

CEK PROMO INFUS DIRUMAH HOMECAREDOKTER DISINI - MULAI DARI 399RB SAJA

● Peradangan

Setiap alat prosedur pada penggunaan infus harus steril agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Meskipun begitu, terkadang infeksi dari jarum atau cairan tetap memiliki potensi sehingga pembuluh darah mengalami peradangan. Kondisi ini disebut sebagai flebitis, yaitu munculnya jaringan parut di sepanjang vena akibat dari peradangan pembuluh darah. Gejalanya dapat berupa pembengkakan kulit hingga rasa sakit ketika disentuh.

● Infeksi Mikroba

Selanjutnya adalah infeksi mikroba seperti, Staphylococcus, Candida albicans, dan bakteri atau jamur lainnya. Infeksi ini terjadi ketika terdapat pertumbuhan mikroba yang berkembang di dalam kulit. Beberapa gejalanya meliputi kulit membengkak, ruam, dan demam. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memicu munculnya penyakit sepsis. 

Bagaimana mikroba dapat tumbuh dan berkembang di dalam kulit? Umumnya, infeksi ini berawal dari tidak terjaganya kebersihan. Contohnya adalah pada tingkat higienis selang infus dan peralatannya. Apabila lengah dan terkontaminasi bakteri, besar kemungkinan akan masuk ke dalam kulit melalui luka bekas infus.

● Ekstravasasi

Ekstravasasi merupakan sebuah kondisi pada pasien ketika obat yang disuntikkan keluar dari pembuluh darah. Akibatnya, obat tersebut meresap ke jaringan di sekitar yang menyebabkan beberapa gejala, seperti Aliran infus lambat, pembengkakan, nyeri, inflamasi, hingga munculnya jaringan parut.

● Iritasi

Efek samping yang terakhir adalah terjadinya iritasi karena pemberian injeksi secara langsung ke pembuluh darah. Kadar pH dan bahan tertentu merupakan penyebab utama terjadinya iritasi. Alhasil, muncul gejala seperti perubahan warna kulit, bengkak, hingga nyeri di sekitar titik penyuntikan infus. 

Akan tetapi, efek samping ini tidak begitu berbahaya apabila sudah ditangani oleh dokter dan tim profesional. Agar tidak bertambah parah, pastikan untuk tidak melakukan tindakan sembarang ketika muncul efek samping.

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa pemberian cairan infus berfungsi di banyak kondisi pasien dan dapat disesuaikan kandungannya dengan kebutuhan pasien. Kamu bisa mendapat cairan infus ketika melakukan perawatan di rumah sakit (rawat inap) atau infus di rumah lewat pelayanan homecare.

Saat ini sudah banyak rumah sakit dan layanan kesehatan memberikan fasilitas infus di rumah. Meskipun begitu, pelaksanaan infus harus tetap berada di bawak dokter, perawat, atau petugas medis profesional lainnya.

Kamu bisa melihat kondisi pasien apa saja yang harus di infus di artikel ini

Artikel ini disusun oleh Tim Medis Klinik Kirana dan sudah ditinjau oleh: dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca proses editorial Klinik Kirana disini: Proses Editorial

  • Stamler KD. Effect of crystalloid infusion on hematocrit in nonbleeding patients, with applications to clinical traumatology. Ann Emerg Med. 1989 Jul;18(7):747-9. doi: 10.1016/s0196-0644(89)80008-3. PMID: 2735592. Accessed 26/12/2023
  • Muller L, Boulet N. Does crystalloid infusion rate really matter in critically ill patients? Anaesth Crit Care Pain Med. 2021 Dec;40(6):100982. doi: 10.1016/j.accpm.2021.100982. Epub 2021 Nov 9. PMID: 34767978. Accessed 26/12/2023
  • Kalayanarooj S. Choice of colloidal solutions in dengue hemorrhagic fever patients. J Med Assoc Thai. 2008 Oct;91 Suppl 3:S97-103. PMID: 19253503. Accessed 26/12/2023
  • Wiedermann CJ, Dunzendorfer S, Gaioni LU, Zaraca F, Joannidis M. Hyperoncotic colloids and acute kidney injury: a meta-analysis of randomized trials. Crit Care. 2010;14(5):R191. doi: 10.1186/cc9308. Epub 2010 Oct 28. PMID: 21029460; PMCID: PMC3219298. Accessed 26/12/2023
Artikel Terkait
Artikel Terbaru