Ketika anggota keluarga sakit dan dirawat, pemberian cairan infus sering kali menjadi penanganan medis pertama yang dilakukan. Banyak yang bertanya, apa sebenarnya fungsi infus? Secara medis, cairan infus berfungsi untuk memasukkan cairan, elektrolit, nutrisi, atau obat-obatan langsung ke dalam pembuluh darah (intravena) agar lebih cepat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh.
Setiap jenis kondisi medis membutuhkan jenis cairan infus yang berbeda. Mulai dari cairan hidrasi dasar seperti NaCl 0,9%, hingga cairan padat nutrisi untuk pasien pasca operasi. Artikel ini akan menjadi panduan lengkap bagi Anda dan keluarga untuk mengenali berbagai jenis cairan infus yang lazim digunakan, peruntukannya, serta bagaimana dokter menentukan pilihan cairan yang tepat.
Apa Itu Cairan Infus?
Cairan infus intravena adalah cairan steril yang diformulasikan khusus untuk diberikan melalui selang langsung ke dalam pembuluh darah vena. Seseorang umumnya membutuhkan infus ketika tubuhnya kehilangan banyak cairan (dehidrasi berat), mengalami perdarahan, syok, penurunan kesadaran, atau ketika pasien tidak memungkinkan untuk menelan makanan, minuman, dan obat melalui mulut secara optimal (World Health Organization [WHO], 2024).
Secara umum, komponen cairan infus terdiri dari air yang dimurnikan, dicampur dengan elektrolit (seperti natrium, kalium, kalsium), glukosa (gula), atau protein, tergantung pada jenis dan peruntukannya.
Jenis-Jenis Cairan Infus dan Fungsinya
Agar lebih mudah memahaminya, berikut adalah daftar jenis cairan infus yang paling sering digunakan dalam perawatan medis, beserta fungsinya masing-masing:
- NaCl 0,9% (Normal Saline): Cairan hidrasi utama yang kandungannya paling menyerupai cairan tubuh (isotonis). Biasanya digunakan untuk mengatasi dehidrasi, syok hipovolemik, atau sebagai pelarut obat-obatan suntik.
- RL (Ringer Laktat): Cairan pengganti elektrolit yang sangat baik. Sering digunakan pada pasien yang mengalami luka bakar, perdarahan hebat, atau trauma.
- Dextrose 5% (D5) & Dextrose 10% (D10): Mengandung glukosa sebagai sumber energi. Diberikan pada pasien hipoglikemia (gula darah sangat rendah) atau kondisi lemas akibat kurang asupan makanan. D10 memberikan pasokan energi yang lebih tinggi dibanding D5.
- Asering: Digunakan pada kasus dehidrasi berat yang membutuhkan penggantian elektrolit secara lengkap dan cepat.
- Albumin: Merupakan protein darah murni. Digunakan pada kasus kritis seperti luka bakar berat atau pasien dengan kadar protein albumin yang sangat rendah.
- Aminofluid (Sering disebut "Infus Pink"): Mengandung asam amino untuk dukungan nutrisi, umumnya diberikan pada pasien yang sedang dalam masa pemulihan pasca operasi.
Tabel Ringkasan Cairan Infus:

Perbedaan Cairan Kristaloid vs Koloid
Secara medis, seluruh jenis infus di atas dikelompokkan ke dalam dua kategori besar (Potter & Perry, 2021):
1. Cairan Kristaloid: Memiliki partikel berukuran kecil yang mudah berpindah dari pembuluh darah ke sel jaringan tubuh. Cairan ini paling umum digunakan (seperti NaCl, RL, dan Dextrose) untuk tujuan hidrasi harian atau mengembalikan keseimbangan elektrolit.
2. Cairan Koloid: Memiliki molekul berukuran lebih besar (seperti protein) yang membuatnya tertahan lebih lama di dalam pembuluh darah. Contohnya adalah Albumin atau plasma darah. Cairan ini hanya digunakan pada kasus-kasus khusus yang mengancam nyawa.
Bagaimana Dokter Menentukan Jenis Cairan?
Pemberian infus tidak bisa dilakukan sembarangan. Pemilihan cairan, dosis, serta kecepatan tetesannya ditentukan langsung oleh dokter berdasarkan:
- Kondisi Pasien: Apakah pasien mengalami demam tinggi, diare, perdarahan, atau syok.
- Hasil Laboratorium: Profil elektrolit, fungsi ginjal, dan kadar gula darah (glukosa) pasien.
- Tujuan Terapi: Apakah untuk hidrasi semata, pemberian kalori, atau stabilisasi sirkulasi darah.
Pertanyaan Seputar Cairan Infus
Apakah pasien bisa minta jenis infus tertentu?
Tidak disarankan. Pemilihan jenis cairan infus adalah keputusan medis yang didasarkan pada hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium. Memilih infus yang salah dapat membahayakan fungsi jantung dan ginjal pasien.
Mengapa cairan infus berbeda warna?
Perbedaan warna disebabkan oleh kandungan di dalamnya. Misalnya, infus Dextrose, NaCl, dan RL umumnya berwarna bening transparan. Namun, ada infus khusus yang mengandung multivitamin, zat besi, atau asam amino yang membuatnya tampak berwarna kekuningan, cokelat, hingga pink.
Bolehkah jenis infus diganti di tengah perawatan?
Sangat boleh dan ini merupakan hal yang umum terjadi. Dokter akan mengganti jenis infus menyesuaikan dengan evaluasi perkembangan kondisi pasien dari hari ke hari (misalnya, dari RL diganti menjadi Dextrose jika pasien terbukti butuh gula).
Apakah cairan infus mengandung gula?
Tidak semua. Hanya cairan yang bertuliskan "Dextrose" (seperti D5 atau D10) atau cairan nutrisi makro yang mengandung gula. Cairan seperti NaCl 0,9% murni berisi air dan garam elektrolit tanpa kalori gula (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Kemenkes RI], 2023).
Pemasangan dan pemilihan cairan infus tidak boleh dilakukan tanpa pengawasan medis, karena risiko penumpukan cairan pada paru-paru atau ketidakseimbangan elektrolit sangatlah tinggi. Jangan mengutak-atik selang atau pengaturan tetesan infus tanpa izin perawat.
Bila Anda atau anggota keluarga membutuhkan terapi cairan lanjutan dan lebih memilih dirawat dengan nyaman di tempat tinggal sendiri, sangat penting untuk mengetahui aturan mengenai bolehkah pasang infus di rumah. Jika disetujui secara medis, Anda bisa mengandalkan tenaga kesehatan profesional yang memahami detail prosedur pemasangan infus yang higienis.
Untuk menghindari risiko efek samping infus, percayakan tindakan perawatan ke rumah Anda hanya pada layanan medis bersertifikat. Hubungi Homecare Dokter by Klinik Kirana di WhatsApp 0821-2207-7347 untuk berkonsultasi mengenai pemesanan layanan perawat dan infus langsung ke rumah Anda.
Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana
Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). *Pedoman pelayanan keperawatan*. Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id
- Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). *Fundamentals of nursing* (10th ed.). Elsevier.
- World Health Organization. (2024). *Clinical guidelines on IV therapy*. World Health Organization. https://www.who.int