8 Efek Samping Infus dan Cara Mengatasinya

Mirna S 26 Feb 2026
8 Efek Samping Infus dan Cara Mengatasinya

Beberapa efek samping dari penggunaan infus yang paling umum adalah nyeri di area suntikan, memar, bengkak, hingga reaksi alergi lainnya. Walaupun tidak terlalu fatal, namun efek samping yang tidak segera ditangani akan membuat pasien tidak nyaman dan merasa nyeri hebat.

Infus (intravenous/IV therapy) adalah metode pemberian cairan atau obat langsung ke pembuluh darah. Prosedur ini umumnya aman jika dilakukan oleh tenaga medis profesional. Namun, seperti tindakan medis lainnya, infus tetap memiliki potensi efek samping.

Simak artikel berikut untuk mengetahui beberapa efek samping infus yang paling sering terjadi serta cara mengatasinya.

1. Nyeri dan Rasa Tidak Nyaman di Area Suntikan

Nyeri ringan di lokasi pemasangan infus adalah efek samping yang paling umum. Hal ini terjadi karena jarum menembus kulit dan pembuluh darah. Nyeri ini bisa bertambah bila aliran cairan terlalu cepat atau cairan bersifat iritan.

Cara mengatasinya:

  • Pastikan posisi jarum stabil dan tidak bergerak.

  • Kompres hangat pada area sekitar (jika diizinkan tenaga medis).

  • Jika nyeri semakin berat atau terasa berdenyut, segera lapor ke tenaga medis agar posisi infus diperiksa ulang.

  • Bila perlu, jarum dapat dipasang ulang di lokasi lain.

2. Memar

Pemasangan infus dapat menyebabkan memar yang terjadi akibat kebocoran darah kecil di bawah kulit saat pemasangan jarum atau jika vena tertusuk lebih dari sekali.

Cara mengatasi:

  • Kompres dingin pada 24 jam pertama untuk mengurangi pembengkakan.

  • Hindari menekan atau menggosok area memar.

  • Memar ringan biasanya hilang dalam beberapa hari tanpa pengobatan khusus.

3. Infiltrasi dan Extravasation

Selain infiltrasi sederhana (cairan dari kateter merembes ke jaringan), ada kondisi yang lebih serius yaitu extravasation, di mana obat atau cairan keluar dari pembuluh darah ke jaringan sekitar dan dapat menyebabkan iritasi atau luka.

Ciri-ciri dari extravasation yang bisa ditemukan:

  • Pembengkakan lokal

  • Kulit terasa dingin atau hangat bukan karena infeksi

  • Rasa nyeri yang tidak sesuai dengan tusukan biasa

Cara mengatasi:

  • Hentikan infus segera begitu tanda infiltrasi/ekstravasasi dikenali.

  • Lepaskan jarum dan pasang di lokasi lain bila diperlukan.

  • Kompres hangat atau dingin sesuai jenis cairan/obat yang terlepas (petunjuk tenaga medis).

  • Perhatikan perkembangan luka di lokasi ekstravasasi untuk mencegah komplikasi.

4. Peradangan Pembuluh Darah (flebitis)

Flebitis adalah peradangan pembuluh darah akibat iritasi mekanis atau kimia dari infus, dan termasuk salah satu komplikasi yang sering terjadi pada terapi intravena.

Tanda flebitis meliputi:

  • Garis merah memanjang di sepanjang vena

  • Rasa nyeri/terasa hangat pada vena

  • Pembengkakan ringan di area sekitar

Cara mengatasi flebitis:

  • Segera hentikan penggunaan infus di lokasi tersebut.

  • Lepaskan infus dan pasang kateter di vena yang berbeda.

  • Kompres hangat dapat membantu mengurangi peradangan ringan.

  • Penggantian set infus secara rutin juga terbukti mengurangi insiden flebitis.

5. Reaksi Alergi

Reaksi alergi bisa terjadi akibat obat atau cairan yang diberikan melalui infus. Ini hanya terjadi jika pasien memiliki alergi terhadap obat yang diberikan sehingga tidak terlalu umum terjadi. Gejalanya bisa berupa gatal, ruam, sesak napas, atau pembengkakan.

Cara mengatasi:

  • Hentikan infus segera

  • Berikan penanganan medis sesuai tingkat keparahan (antihistamin, kortikosteroid, atau tindakan darurat jika berat)

  • Catat riwayat alergi untuk mencegah kejadian berulang

6. Infeksi di Area Pemasangan

Infeksi dapat terjadi jika prosedur tidak steril atau infus terpasang terlalu lama. Tanda infeksi meliputi kemerahan, nyeri, bengkak, dan keluar cairan dari lokasi tusukan. Infeksi kulit atau jaringan di sekitar infus merupakan komplikasi yang berbahaya, terutama jika sterilitas tidak terjaga dengan baik.

Tanda infeksi:

  • Kemerahan yang terus bertambah

  • Nyeri yang bertambah

  • Keluar nanah dari area pemasangan infus

Cara mengatasi:

  • Lepaskan infus jika infeksi dicurigai akibat infus

  • Perawatan area dengan antiseptik sesuai arahan medis

  • Dalam kasus infeksi berat, antibiotik topikal bisa jadi diperlukan

7. Hemolisis (pada transfusi darah)

Hemolisis adalah kerusakan sel darah merah yang dapat terjadi jika ukuran jarum terlalu kecil atau tekanan aliran terlalu tinggi saat transfusi darah

Cara mengatasi:

  • Gunakan ukuran jarum yang sesuai untuk transfusi (biasanya 18–20G pada dewasa)

  • Atur kecepatan aliran sesuai standar

  • Hentikan transfusi jika muncul reaksi tidak biasa dan evaluasi segera

8. Penyumbatan Kateter⁠

Sumbatan kateter bisa terjadi akibat pembekuan darah, residu obat, atau kontaminasi. Komplikasi ini cukup sering dilaporkan dalam kateter perifer secara global. Penyumbatan kateter infus dapat dilihat jika infus Anda macet atau tidak.

Cara mengatasi:

  • Kuras atau "flushing" kateter secara berkala dengan NaCl 0,9% untuk membantu mencegah sumbatan.

  • Hentikan infus dan bersihkan atau ganti set jika pengurasan tidak efektif.

Dapatkan Infus yang Aman dengan Layanan Infus Homecare Dokter

Semua efek samping di atas dapat dicegah dengan melakukan prosedur infus yang tepat dan sesuai standar medis. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Anda sebaiknya menggunakan infus di bawah pengawasan tim medis profesional. Jika Anda ingin melakukan infus di rumah dengan aman, lebih baik menggunakan layanan infus ke rumah.

Homecare Dokter menyediakan layanan infus vitamin atau multivitamin di rumah pasien. Anda tidak perlu keluar rumah dan bisa mendapatkan layanan terbaik dokter dan suster profesional hanya dari rumah Anda. Hubungi tim kami melalui WhatsApp untuk konsultasi lebih lanjut.

Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial

  • Akhgar, A., Pouryousefi, T., Nejati, A., Rafiemanesh, H., & Hossein-nejad, H. (2021). The efficacy of intravenous lidocaine and its side effects in comparison with intravenous morphine sulfate in patients admitted to the ED with right upper abdominal pain suspected of biliary colic. The American Journal of Emergency Medicine, 44, 300–305. https://doi.org/10.1016/j.ajem.2020.04.010
  • Dychter, S. S., Gold, D. A., Carson, D., & Haller, M. F. Intravenous therapy: A review of complications and considerations for peripheral access. Journal of Infusion Nursing, 35(2), 84–91. https://doi.org/10.1097/NAN.0b013e31824237ce
  • Zalewska, A., Sosna, M., & Badoń, M. (2025). Side effects after intravenous administration of an iodinated contrast agent during computed tomography. Medical Research Journal, 10(1), 88–94. https://doi.org/10.5603/mrj.104314
Artikel Terkait