Tipes sangat mungkin terjadi lebih dari sekali atau disebut kambuh. Untuk itu, Anda perlu mengetahui ciri tipes kambuh agar dapat melakukan penanganan yang tepat. Banyak orang bertanya, apakah tipes bisa kambuh setelah dinyatakan sembuh? Jawaban singkatnya, bisa.
Gejala tipes kambuh bisa menyerupai gejala tipes awal, hanya saja sering kali lebih ringan dan berlangsung lebih singkat. Kenali ciri-ciri tipes kambuh, penyebab, dan cara penanganannya di sini.
Apakah Tipes Bisa Kambuh?
Ya, tipes bisa kambuh. Kekambuhan terjadi ketika bakteri Salmonella typhi belum sepenuhnya hilang dari tubuh, daya tahan tubuh sedang menurun, atau pengobatan dihentikan sebelum tuntas. Karena itu, gejala dapat muncul kembali beberapa minggu setelah seseorang merasa pulih, sehingga pengobatan perlu diselesaikan sesuai anjuran tenaga medis.
Apa Penyebab Tipes Kambuh?
Meskipun infeksi sebelumnya dapat memberikan kekebalan, namun itu tidak selalu bertahan lama. Maka dari itulah infeksi ulang atau kambuh dapat terjadi, biasanya sekitar seminggu setelah pengobatan antibiotik selesai atau 2 bulan setelah penderita sembuh.
Berikut penyebab tipes bisa kambuh:
- Kembali terpapar bakteri Salmonella typhi melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi
- Imun atau daya tahan tubuh yang rendah
- Tidak menjaga kebersihan saat mengonsumsi sesuatu, misalnya tidak cuci tangan
- Baru saja bepergian ke daerah rawan tipes, yaitu daerah dengan sanitasi buruk
Ciri Tipes Kambuh
Ciri-ciri tipes kambuh tidak berbeda jauh dengan gejala awal, seperti demam tinggi, lemas, gangguan pada pencernaan, hingga mual dan muntah. Ciri tipes kambuh umumnya mirip dengan gejala awal, meliputi:
- Demam dan berkeringat
- Gangguan pencernaan
- Tubuh terasa lemas
- Sakit perut
- Kehilangan nafsu makan
- Mual dan muntah
Demam dan berkeringat
Gejala tipes yang paling umum adalah demam yang cenderung meningkat perlahan pada minggu pertama Anda terkena tipes dan bisa mencapai 39 sampai 40潞C. Demam gejala tipes juga lebih terasa parah saat malam.
Saat demam, Anda juga mungkin mengeluarkan keringat karena suhu tubuh akan meningkat hingga terasa panas. Di sini tubuh berusaha menurunkan suhu internalnya sehingga mengeluarkan keringat.
Gangguan pencernaan
Tipes adalah infeksi bakteri pada usus yang menyebabkan gangguan pencernaan. Gejala pada anak dan orang dewasa dapat berbeda.
- Pada anak-anak biasanya mengalami diare karena usus tidak dapat menyerap air dengan baik sehingga feses menjadi encer
- Orang dewasa lebih sering mengalami sembelit karena gerakan usus terganggu akibat infeksi
Infeksi usus dari tipes mengganggu penyerapan air dan gerakan usus. Itulah sebabnya muncul diare pada anak dan sembelit pada orang dewasa.
Tubuh terasa lemas
Saat tipes, tubuh terasa lemas dan tidak berenergi karena diare membuat tubuh terus membuang banyak cadangan cairan. Ditambah lagi, mineral-mineral elektrolit pun keluar dari tubuh lewat feses serta keringat.
Sakit perut
Gejala tipes pada sistem pencernaan sering kali disertai kram atau nyeri perut, karena infeksi membuat usus menerima sinyal dari otak agar mendorong pengeluaran feses lebih cepat. Respons ini memicu kontraksi usus yang menimbulkan diare dan kram.
Kebanyakan orang mulai merasakan sakit perut dan diare dalam 8 hingga 72 jam setelah terinfeksi bakteri Salmonella. Infeksi menyebabkan sistem pencernaan terganggu, yang memicu otak mengirim sinyal ke usus agar berkontraksi sehingga menyebabkan kram dan diare.
Kehilangan nafsu makan
Selama terinfeksi tipes, tubuh mengalami peradangan yang mengaktifkan sistem imun. Salah satu responnya adalah produksi hormon leptin oleh sel lemak, yang memberi sinyal ke otak untuk menurunkan nafsu makan.
Pada orang dewasa, penurunan nafsu makan akibat tipes biasanya bersifat sementara dan muncul saat peradangan sudah mulai mereda.
Mual dan muntah
Mual dan muntah merupakan gejala tipes pada orang dewasa sebagai wujud peradangan di dalam sistem pencernaan. Ketika bakteri penyebab tipes menimbulkan infeksi lambung dan usus, sistem imun akan merespons serangan tersebut dengan mengirimkan sinyal ke otak untuk memunculkan rasa mual.
Otak kemudian memerintahkan organ pencernaan untuk memproduksi lebih banyak cairan yang membuat perut terasa tidak nyaman. Inilah penyebab Anda menjadi mual dan bisa muntah-muntah.
Namun, mual dan muntah merupakan reaksi alami tubuh untuk mengeluarkan racun dan bakteri dari dalam sistem pencernaan.
Kapan Harus ke Dokter?
Tipes kambuh yang dibiarkan dapat menimbulkan komplikasi. Segera periksakan diri atau hubungi tenaga medis jika mengalami:
- Demam tinggi lebih dari 3 hari yang tidak kunjung turun
- Tidak bisa makan atau minum dan mulai dehidrasi
- Muntah terus-menerus
- Nyeri perut hebat
- Penurunan kesadaran atau tubuh yang terasa sangat lemas
Jika gejala memberat, sebaiknya kondisi diperiksa oleh tenaga medis tanpa menunggu lama. Anda dapat memanfaatkan layanan panggil dokter ke rumah agar pemeriksaan dilakukan langsung tanpa perlu mengantri di fasilitas kesehatan.
Cara Menangani Tipes yang Kambuh
Beberapa hal yang bisa Anda lakukan jika tipes kambuh lagi:
- Lakukan tes jika mengalami gejala tipes dan tidak kunjung membaik, bisa tes widal atau tes darah
- Konsumsi obat tipes seperti antibiotik (ciprofloxacin atau levofloxacin), ceftriaxone atau cefixime, dan azithromycin sesuai anjuran dokter
- Konsumsi obat penurun demam dan nyeri seperti paracetamol, bisa juga menggunakan obat tipes alami untuk membantu proses pemulihan
- Konsumsi oralit atau cairan rehidrasi jika tubuh mengalami dehidrasi. Untuk dehidrasi yang lebih berat, infus untuk tipes di rumah dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan dengan pendampingan tenaga medis
- Istirahat total, jangan beraktivitas berat sampai kondisi benar-benar pulih
- Konsumsi makanan untuk orang tipes, yaitu yang bertekstur lunak, mudah dicerna, dan bergizi
Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala tipes, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, terutama bila gejala justru memburuk. Untuk perawatan di rumah, layanan jasa infus di rumah memungkinkan pemberian cairan dan obat dilakukan tanpa harus keluar rumah untuk mengantri di fasilitas kesehatan.
Pertanyaan Seputar Tipes Kambuh
Apakah tipes bisa kambuh lagi?
Ya, tipes bisa kambuh. Kekambuhan biasanya terjadi ketika bakteri Salmonella typhi belum sepenuhnya hilang atau daya tahan tubuh sedang menurun. Karena itu pengobatan perlu dituntaskan sesuai anjuran tenaga medis.
Apa ciri ciri tipes kambuh yang paling umum?
Ciri yang paling sering muncul adalah demam yang naik kembali, tubuh lemas, gangguan pencernaan, sakit perut, mual, serta kehilangan nafsu makan. Gejalanya umumnya mirip dengan saat pertama kali terkena tipes.
Berapa lama tipes bisa kambuh setelah sembuh?
Kekambuhan dapat terjadi dalam beberapa minggu setelah gejala awal mereda, terutama bila pengobatan dihentikan sebelum tuntas. Setiap orang berbeda, sehingga sebaiknya tetap kontrol sesuai jadwal yang disarankan dokter.
Apa yang harus dilakukan jika tipes kambuh?
Perbanyak istirahat, jaga asupan cairan, konsumsi makanan yang mudah dicerna, dan lanjutkan pengobatan sesuai anjuran. Jika demam tinggi tidak turun, muntah terus-menerus, atau tubuh sangat lemas, sebaiknya segera periksakan diri ke tenaga medis.
Apakah penanganan tipes kambuh bisa dilakukan di rumah?
Untuk kondisi yang masih ringan, perawatan di rumah seperti istirahat, hidrasi, dan pemberian infus atau obat dapat dilakukan dengan pendampingan tenaga medis. Homecare Dokter menyediakan layanan infus dan pemeriksaan dokter ke rumah untuk membantu pemulihan, dengan response time 30 menit di area layanan.
Butuh Penanganan Tipes Kambuh di Rumah?
Jangan tunda penanganan jika gejala tipes kambuh dan tubuh terasa semakin lemas. Homecare Dokter menyediakan layanan infus dan pemeriksaan dokter di rumah untuk membantu pemulihan, dengan response time 30 menit di area layanan. Layanan tersedia di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Bali, dan Makassar. Hubungi tim kami melalui WhatsApp di 082122077347 untuk konsultasi, informasi tarif, dan ketersediaan tim medis.
Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana
Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial
- 1. World Health Organization. Typhoid. Diakses 10 Juni 2026, dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/typhoid
- 2. Mayo Clinic. Typhoid fever - Symptoms and causes. Diakses 10 Juni 2026, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/typhoid-fever/symptoms-causes/syc-20378661
- 3. Ahmad, K. A., Khan, L. H., Roshan, B., & Bhutta, Z. A. (2011). Factors associated with typhoid relapse in the era of multiple drug resistant strains. Journal of Infection in Developing Countries, 5(10), 727-731.
- 4. Barrett, F. C., Knudsen, J. D., & Johansen, I. S. (2013). Cases of typhoid fever in Copenhagen region: a retrospective study of presentation and relapse. BMC Research Notes, 6, 315.
- 5. Brusch, J. L. (2022). Typhoid Fever Follow-up. In eMedicine, Medscape.