5 Rekomendasi Obat TBC yang Umum Diresepkan oleh Dokter

Penyakit Umum June 1, 2024 Penulis : Mirna S
5 Rekomendasi Obat TBC yang Umum Diresepkan oleh Dokter

Dokter umumnya meresepkan kombinasi beberapa obat antibiotik untuk memastikan efektivitas pengobatan serta mencegah resistansi bakteri. Apa saja jenis obat antibiotik yang biasanya digunakan untuk mengobati TBC dan cara kerjanya? Simak artikel berikut ini untuk penjelasan lengkapnya!

Apakah Penderita TBC Bisa Sembuh Total?

Ya, penderita TBC bisa sembuh total asalkan menjalani pengobatan yang tepat dan mengikuti aturan minum obat yang biasanya berlangsung 6-9 bulan dengan resep yang sudah dianjurkan oleh dokter.  Tanpa pengobatan yang tepat, TBC akan sulit sembuh dan dapat menjadi lebih parah serta menular ke orang lain. Disiplin dalam menjalani pengobatan adalah kunci utama kesembuhan total dari TBC.

2 Tahapan Pengobatan TBC di Indonesia

Penyakit tuberkulosis (TBC) dapat terjadi ketika bakteri penyebab TBC, yaitu Mycobacterium tuberculosis, aktif menginfeksi atau berkembang biak dalam tubuh (TB aktif). Di Indonesia, pengobatan TBC terdiri dari dua tahapan, yaitu tahap pengobatan intensif dan tahap pengobatan lanjutan.

1. Tahap Pengobatan Intensif

Pada tahap ini, pasien TBC diharuskan untuk minum obat setiap hari selama 2 bulan berturut-turut. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk menekan pertumbuhan bakteri TBC dalam tubuh pasien. Pengobatan intensif bertujuan untuk mengurangi jumlah bakteri, sehingga pasien tidak lagi menularkan penyakit TBC kepada orang lain.

Jenis obat TBC yang digunakan pada tahap ini bervariasi tergantung pada kategori pasien. Kategori pasien ini ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dan hasil pemeriksaan dahak. Ada beberapa kategori pasien TBC, seperti:

  • Kategori I (Kasus Baru): Pasien yang belum pernah mendapat pengobatan TBC sebelumnya, atau baru mendapat pengobatan selama kurang dari 4 minggu, dengan hasil pemeriksaan dahak positif.

  • Kategori II (Relaps): Pasien yang telah dinyatakan sembuh dari TBC setelah menyelesaikan pengobatan, namun hasil pemeriksaan dahak kembali positif.

  • Kategori II (Kasus Gagal): Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali positif setelah menjalani pengobatan selama 5 bulan.

  • Kategori II (Pengobatan Terputus): Pasien yang telah berobat, namun menghentikan pengobatan dan kembali dengan hasil pemeriksaan dahak positif atau hasil radiologi menunjukkan status TB aktif.

  • Kategori III: Pasien dengan hasil radiologi positif TB ekstra paru ringan.

  • Pasien Kasus Kronis: Pasien dengan hasil pemeriksaan dahak yang tetap positif setelah menjalani pengobatan ulang.

Pasien dengan hasil pemeriksaan dahak negatif, namun mengalami TB ekstra paru mungkin mendapatkan dosis obat yang lebih rendah selama tahap ini.

2. Tahap Pengobatan Lanjutan

Setelah menyelesaikan tahap pengobatan intensif, pasien TBC akan memasuki tahap pengobatan lanjutan. Pada tahap ini, dosis obat yang diberikan kepada pasien akan dikurangi, biasanya hanya 2 jenis obat.

Meskipun demikian, durasi pengobatan pada tahap ini lebih lama, yaitu sekitar 4 bulan bagi pasien dengan kategori kasus baru. Tujuan dari tahap ini adalah untuk memastikan bahwa bakteri TBC yang sudah tidak aktif dalam tubuh telah benar-benar hilang, sehingga mengurangi risiko kambuhnya penyakit.

Pada kasus yang lebih parah, seperti pasien yang mengalami sesak napas berat atau gejala TB ekstra paru yang berat, pasien mungkin akan direkomendasikan untuk menjalani rawat inap di rumah sakit.

5 Jenis Obat TBC di Lini Pertama

Untuk mengobati tuberkulosis (TBC), dokter umumnya meresepkan kombinasi obat yang disebut sebagai obat lini pertama. Berikut adalah 5 jenis obat TBC di lini pertama yang sering diresepkan dokter, antara lain:

1. Isoniazid

Isoniazid merupakan jenis obat antituberkulosis (OAT) yang sangat efektif dalam membunuh bakteri penyebab tuberkulosis. Pada tahap pengobatan intensif, obat ini memiliki kemampuan untuk membunuh sekitar 90% kuman TB dalam beberapa hari.

Isoniazid bekerja dengan cara mengganggu pembuatan mycolic acid, yaitu senyawa yang berperan penting dalam membangun dinding sel bakteri. Obat ini lebih efektif dalam membunuh bakteri yang sedang aktif berkembang.

Namun, perlu diperhatikan bahwa isoniazid dapat memiliki efek samping, terutama pada pasien dengan riwayat penyakit hati kronis, masalah fungsi ginjal, atau riwayat kejang. Selain itu, peminum alkohol, pasien berusia di atas 35 tahun, dan wanita hamil harus mendapat pengawasan khusus selama penggunaan obat ini.

2. Rifampicin

Rifampicin atau rifampisin adalah obat antituberkulosis (OAT) yang efektif dalam membunuh bakteri TBC, terutama bagi bakteri yang tidak bereaksi terhadap isoniazid. Obat ini bekerja dengan cara mengganggu kerja enzim bakteri.

Meskipun rifampicin umumnya aman digunakan, obat ini dapat menimbulkan beberapa efek samping sementara. Penting untuk dicatat bahwa penggunaan rifampicin pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko kelahiran bayi dengan masalah tulang belakang (spina bifida).

3. Pyrazinamide

Pyrazinamide atau pirazinamid adalah obat yang efektif dalam membunuh bakteri TBC yang bertahan hidup setelah dilawan oleh sel darah putih dalam tubuh. Obat ini juga dapat bekerja dengan cara membunuh bakteri yang berada dalam pH asam, seperti dalam sel.

Salah satu efek samping yang umum terkait dengan penggunaan pyrazinamide adalah hiperurisemia (peningkatan asam urat dalam darah). Oleh karena itu, pasien yang menggunakan obat ini perlu rutin memeriksakan kadar asam uratnya.

Selain itu, efek samping lainnya yang mungkin terjadi termasuk mual, muntah, anoreksia (gangguan makan yang ditandai dengan penurunan berat badan secara drastis), dan hepatotoksisitas (kerusakan pada hati yang disebabkan oleh obat).

4. Etambutol

Etambutol adalah obat antituberkulosis (OAT) yang menghambat kemampuan bakteri TBC untuk menginfeksi, meskipun tidak secara langsung membunuh bakteri tersebut. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan bakteri M. tuberculosis yang kebal terhadap isoniazid dan streptomycin.

Penggunaan etambutol tidak disarankan untuk TBC pada anak di bawah usia 8 tahun, karena dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang sulit dikontrol. Efek samping lain yang perlu diwaspadai adalah gangguan penglihatan pada semua kelompok usia yang menggunakan obat ini.

5. Streptomycin

Streptomycin atau streptomisin adalah antibiotik pertama yang dibuat khusus untuk melawan bakteri penyebab TBC. Obat ini bekerja dengan cara menghambat proses pembuatan protein bakteri, terutama pada bakteri yang sedang membelah diri.

Streptomycin biasanya disuntikkan ke jaringan otot, dan sering dipilih untuk pengobatan TBC yang sudah untuk kedua kalinya, atau jika penggunaan obat TBC lainnya tidak efektif lagi. Namun, penggunaan streptomycin harus dipertimbangkan hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal, gangguan pendengaran, atau wanita hamil.

Baca Artikel Selanjutnya: 
1. Jenis Tes untuk Mendiagnosis TBC

2. Tips Disiplin Minum Obat TBC, Jangan Biarkan Pengobatan Gagal

 

Obat Lini Kedua untuk Penderita TBC Resistan Obat

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak bakteri penyebab TBC yang kebal terhadap obat lini pertama. Hal ini terjadi akibat ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, jadwal minum obat yang tidak teratur, atau karena bakteri yang secara alami resistan terhadap antibiotik tertentu.

Kondisi ini dikenal dengan TB MDR (Multidrug-Resistant Tuberculosis), di mana bakteri TBC resistan terhadap setidaknya dua obat utama, yakni isoniazid dan rifampicin. Pasien yang didiagnosis dengan TB MDR membutuhkan pengobatan yang lebih intensif menggunakan obat lini kedua.

Pengobatan ini lebih kompleks dan biasanya memiliki lebih banyak efek samping dibandingkan dengan pengobatan menggunakan obat lini pertama. WHO merekomendasikan beberapa obat lini kedua untuk mengatasi TB MDR meliputi:

  • Pyrazinamide: Meskipun digunakan dalam pengobatan TB lini pertama, pyrazinamide tetap efektif dan digunakan dalam pengobatan TB MDR.

  • Amikacin atau Kanamycin: Kedua antibiotik ini termasuk dalam golongan aminoglikosida dan efektif terhadap bakteri TBC yang resistan. Pilihan antara amikacin dan kanamycin dapat disesuaikan dengan ketersediaan dan respons pasien.

  • Ethionamide atau Prothionamide: Kedua obat ini berfungsi menghambat sintesis dinding sel bakteri TBC, sehingga mengurangi kemampuan bakteri untuk bertahan hidup.

  • Cycloserine atau PAS (Para-aminosalicylic acid): Kedua obat ini memiliki mekanisme kerja yang berbeda dari obat lini pertama dan efektif dalam menekan pertumbuhan bakteri TBC resistan.

Selain obat-obatan tersebut, WHO juga mengizinkan penggunaan beberapa obat lini kedua lainnya, yaitu:

  • Capreomycin: Antibiotik yang bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri.

  • Para-aminosalicylic acid (PAS): Mengganggu metabolisme bakteri TBC, membantu mengurangi pertumbuhan dan penyebaran bakteri.

  • Ciprofloxacin, Ofloxacin, dan Levofloxacin: Ketiga obat ini termasuk dalam golongan fluoroquinolone dan efektif dalam pengobatan TB MDR.

Pengobatan TB MDR memerlukan disiplin yang tinggi dan waktu yang lebih lama dibandingkan pengobatan TB non-resistan. Pasien harus memulai pengobatan dari awal dengan menggunakan obat lini kedua. Durasi pengobatan biasanya minimal 8–12 bulan, namun bisa berlangsung lebih lama tergantung pada respons pasien terhadap terapi.

Untuk mencegah penyebaran infeksi, orang dengan TBC aktif disarankan untuk tetap berada di rumah. Jika memerlukan perawatan medis ringan, Anda bisa menggunakan layanan Homecare Dokter yang memungkinkan Anda memanggil dokter langsung ke rumah.

Namun, untuk perawatan yang lebih serius, pergilah ke rumah sakit agar dokter dapat memberikan penanganan medis yang tepat sesuai dengan kondisi Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami, jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut mengenai penanganan TBC.

Yuk, segera hubungi kami disini: Layanan Dokter ke Rumah.

Sudah ditinjau oleh: dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca proses editorial Klinik Kirana disini: Proses Editorial

  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Treating Drug-Resistant Tuberculosis Disease. Diakses pada 24/05/2024, dari https://www.cdc.gov/tb/treatment/drug-resistant-tuberculosis.html
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Treating Tuberculosis. Diakses pada 24/05/2024, dari https://www.cdc.gov/tb/treatment/
  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Treatment for TB Disease. Diakses pada 24/05/2024, dari https://www.cdc.gov/tb/topic/treatment/tbdisease.htm
  • Clevelan Clinic. Ethambutol tablets. Diakses pada 24/05/2024, dari https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/20637-ethambutol-tablets
  • Cleveland Clinic. Isoniazid, INH tablets. Diakses pada 24/05/2024, dari https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/18971-isoniazid-inh-tablets
  • Cleveland Clinic. Pyrazinamide, PZA tablets. Diakses pada 24/05/2024, dari https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/18217-pyrazinamide-pza-tablets
  • Cleveland Clinic. Streptomycin injection. Diakses pada 24/05/2024, dari https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/19318-streptomycin-injection
  • Connolly, L. E., Edelstein, P. H., & Ramakrishnan, L. Why is long-term therapy required to cure tuberculosis? Diakses pada 24/05/2024, dari https://journals.plos.org/plosmedicine/article?id=10.1371/journal.pmed.0040120
  • Mayo Clinic. Rifampin (Oral Route). Diakses pada 24/05/2024, dari https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements/rifampin-oral-route/description/drg-20065839
  • Mayo Clinic. Tuberculosis. Diakses pada 24/05/2024, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/diagnosis-treatment/drc-20351256
  • TB Indonesia. Bagaimana Pengobatan TBC? Diakses pada 24/05/2024, dari https://tbindonesia.or.id/Tanya-Jawab-TBC/bagaimana-pengobatan-tbc/
  • World Health Organization (WHO). Tuberculosis. Diakses pada 24/05/2024, dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis
  • World Health Organization (WHO). Types of drug-resistant TB. Diakses pada 24/05/2024, dari https://www.who.int/teams/global-tuberculosis-programme/diagnosis-treatment/treatment-of-drug-resistant-tb/types-of-tb-drug-resistance
  • Yayasan KNCV Indonesia. Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO). Diakses pada 24/05/2024, dari https://yki4tbc.org/tuberkulosis-resistan-obat-tbc-ro/
Artikel Terkait
Artikel Terbaru