Menurut penelitian, jenis cairan infus dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu kristaloid dan koloid. Kristaloid kemudian dapat dibagi lagi menjadi larutan tidak seimbang, seperti salin (0,45%, 0,9%, 3%, dan 20%) dan dekstrosa 5%, atau larutan seimbang, seperti Ringer laktat dan larutan polielektrolit.
Sementara koloid dapat berasal dari plasma, seperti albumin 5%, atau semisintetik, seperti gelatin cair termodifikasi 4%. Kristaloid umumnya lebih hemat biaya, memiliki risiko reaksi alergi yang lebih rendah, dan lebih mudah didapatkan daripada koloid.
Penggunaan setiap jenis cairan infus harus disesuaikan berdasarkan kebutuhan spesifik pasien dan kondisi yang sesuai. Ketahui jenis-jenis dan fungsi dari tiap cairan infus di artikel ini.
1. Ringer Laktat (RL)
Ringer Laktat berfungsi untuk menggantikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang akibat dehidrasi, perdarahan ringan, luka bakar, atau setelah operasi. Kandungan elektrolitnya menyerupai cairan tubuh sehingga mudah diterima oleh sistem tubuh.
Manfaat:
-
Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
-
Membantu memperbaiki asidosis metabolik ringan
Efek samping:
-
Risiko kelebihan cairan
-
Tidak dianjurkan pada gangguan fungsi hati berat
2. NaCl 0,9 Persen
NaCl 0,9% digunakan untuk meningkatkan volume darah dan sebagai cairan pembawa obat intravena. Sangat sering dipakai dalam kondisi syok, dehidrasi berat, dan tindakan medis darurat.
Manfaat:
-
Cepat menaikkan volume sirkulasi
-
Aman untuk sebagian besar pasien
Efek samping:
-
Asidosis hiperkloremik jika digunakan berlebihan
-
Retensi cairan
3. Dextrose
Dextrose berfungsi sebagai sumber energi cepat karena mengandung glukosa. Digunakan untuk mengatasi hipoglikemia dan sebagai suplai kalori sementara.
Manfaat:
-
Menstabilkan kadar gula darah
-
Memberi energi instan
Efek samping:
-
Hiperglikemia
-
Gangguan keseimbangan cairan
4. Albumin
Albumin berfungsi meningkatkan tekanan onkotik darah sehingga cairan dari jaringan kembali ke pembuluh darah. Digunakan pada pasien dengan kadar albumin rendah atau edema berat.
Manfaat:
-
Mengurangi pembengkakan
-
Menstabilkan volume darah
Efek samping:
-
Reaksi alergi
-
Overload cairan
5. Hydroxyethyl Starch (HES)
HES digunakan sebagai cairan koloid untuk mempertahankan volume darah lebih lama pada kondisi syok atau kehilangan darah berat.
Manfaat:
-
Efek ekspansi volume tahan lama
Efek samping:
-
Risiko gangguan ginjal
-
Gangguan pembekuan darah
6. Fresh Frozen Plasma (FFP)
FFP berfungsi menggantikan faktor pembekuan darah pada pasien dengan gangguan koagulasi atau perdarahan masif.
Manfaat:
-
Mencegah dan mengatasi perdarahan
-
Menunjang prosedur medis besar
Efek samping:
-
Reaksi transfusi
-
Kelebihan cairan
7. Packed Red Cell (PRC)
PRC diberikan untuk meningkatkan kadar hemoglobin dan kapasitas darah dalam membawa oksigen. Umumnya digunakan pada anemia berat dan perdarahan akut.
Manfaat:
-
Mengatasi anemia
-
Meningkatkan suplai oksigen ke jaringan
Efek samping:
-
Reaksi transfusi
-
Demam
8. Platelet Concentrate (PRP)
Platelet concentrate berfungsi meningkatkan jumlah trombosit pada pasien dengan trombositopenia atau risiko perdarahan tinggi.
Manfaat:
-
Mencegah perdarahan spontan
-
Mendukung proses pembekuan darah
Efek samping:
-
Reaksi alergi
-
Demam
9. Plasma Lutena
Plasma Lutena digunakan untuk terapi gangguan pembekuan darah tertentu dengan menyediakan komponen plasma yang dibutuhkan tubuh.
Manfaatnya adalah mampu menstabilkan sistem koagulasi. Sementara untuk efek samping adalah adanya reaksi transfusi.
10. Colloid (Gelatin, Dextran, Albumin)
Cairan koloid membantu mempertahankan tekanan darah dengan menarik cairan ke dalam pembuluh darah. Koloid umumnya digunakan pada kondisi kehilangan cairan yang signifikan.
Manfaat:
-
Efek ekspansi volume lebih lama
-
Menjaga tekanan darah
Efek samping:
-
Reaksi anafilaksis
-
Gangguan ginjal (tergantung jenis)
11. Vasopresin
Vasopresin digunakan untuk meningkatkan tekanan darah dengan cara menyempitkan pembuluh darah, terutama pada syok septik. Manfaat vasopresin adalah menstabilkan tekanan darah kritis.
Sementara untuk efek samping yang bisa terjadi adalah iskemia jaringan dan gangguan irama jantung.
12. Furosemide Intravena
Furosemide membantu mengeluarkan kelebihan cairan tubuh melalui ginjal. Umumnya, Furosemide digunakan pada edema paru, gagal jantung, dan kelebihan cairan.
Manfaat:
-
Mengurangi sesak napas
-
Mengontrol volume cairan
Efek samping:
-
Kekurangan elektrolit
-
Dehidrasi
13. Zoledronic Acid
Zoledronic acid digunakan untuk menghambat kerusakan tulang pada osteoporosis, kanker dengan metastasis tulang, dan hiperkalsemia.
Manfaat:
-
Menguatkan struktur tulang
-
Mengurangi risiko patah tulang
Efek samping:
-
Nyeri tulang sementara
-
Gangguan ginjal
14. Antibiotik Intravena
Infus antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi berat karena bekerja lebih cepat dan efektif dibandingkan antibiotik oral.
Manfaat:
-
Respon terapi lebih cepat
-
Efektif untuk infeksi sistemik
Efek samping:
-
Reaksi alergi
-
Gangguan pencernaan
15. Total Parenteral Nutrition (TPN)
TPN adalah cairan nutrisi lengkap yang diberikan pada pasien yang tidak bisa makan melalui saluran cerna. Cairan infus ini sudah mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan juga mineral.
Manfaat:
-
Memenuhi kebutuhan nutrisi total
-
Mendukung pemulihan pasien
Efek samping:
-
Risiko infeksi kateter
-
Gangguan metabolik
Baca Juga: 5 Manfaat Infus Multivitamin untuk Tubuh
Itulah 15 jenis cairan infus lengkap dengan fungsi, manfaat, dan juga efek samping yang mungkin terjadi. Menggunakan jenis cairan infus yang sesuai sangat penting untuk mengatasi permasalahan tubuh tiap individu.
Jika Anda ingin mendapatkan infus di rumah, Anda bisa menggunakan layanan infus ke rumah oleh Homecare Dokter. Dokter profesional kami akan melayani Anda secara profesional dan keamanannya sangat terjamin. Konsultasi dengan tim kami melalui WhatsApp sekarang juga.
Artikel ini Disusun Oleh Mirna S. Tim Medis Klinik kirana dan Sudah ditinjau oleh : dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana
Baca Proses Editorial Klinik Kirana disini : Proses Editorial
- Centers for Disease Control and Prevention. (2022). Safe injection practices. https://www.cdc.gov
- Mayo Clinic. (2023). IV fluids and electrolytes. https://www.mayoclinic.org
- World Health Organization. (2020). Fluid therapy in adults in hospital. https://www.who.int
- National Health Service (NHS). (2023). Intravenous therapy overview. https://www.nhs.uk