Melakukan Pencegahan Stroke Kedua pada Lansia

Lansia December 16, 2023 Penulis : Mirna S
Melakukan Pencegahan Stroke Kedua pada Lansia

Pada lansia, pencegahan stroke kedua memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan perubahan gaya hidup sehat, pengelolaan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi dan diabetes, serta pemantauan kesehatan secara berkala.

Meskipun sebagian besar orang yang telah mengalami stroke memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stroke kedua, tindakan pencegahan yang tepat dapat secara signifikan mengurangi kemungkinan terjadinya kejadian tersebut.

Apakah Stroke Kedua pada Lansia Berbahaya?

Stroke kedua pada lansia dapat menjadi sangat berbahaya dan memperburuk kondisi kesehatan mereka. Pada umumnya, lansia yang telah mengalami stroke pertama memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami serangan stroke kedua.

Stroke kedua dapat lebih parah karena adanya kerusakan otak sebelumnya dan peningkatan kerentanan terhadap komplikasi. Selain itu, faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke ulang pada lansia.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan langkah-langkah pencegahan yang efektif, seperti mengontrol faktor risiko, menjalani gaya hidup sehat, dan mengikuti perawatan medis yang teratur guna mengurangi risiko stroke kedua pada lansia.

Baca Artikel Selanjutnya: Tips Memberikan Makanan Sehat untuk Lansia Pasca Stroke

Faktor Risiko dan Cara Mencegah Stroke Kedua

Faktor risiko yang berkaitan dengan stroke kedua pada lansia mencakup sejumlah aspek kesehatan. Mencegah stroke kedua melibatkan pendekatan holistik, termasuk pengelolaan faktor risiko melalui perubahan gaya hidup sehat, pengelolaan kondisi medis, dan pemantauan kesehatan secara berkala.

Gaya Hidup Sehat dan Pengelolaan Kondisi Medis

Stroke kedua dapat dihindari dengan mengadopsi gaya hidup sehat dan efektif mengelola kondisi medis yang mungkin meningkatkan risikonya. Mengetahui faktor risiko stroke dan mengikuti saran dari profesional kesehatan tentang gaya hidup sehat menjadi kunci dalam pencegahan stroke kedua.

Jika Anda pernah mengalami stroke atau serangan iskemik sementara, langkah-langkah berikut dapat membantu mencegah stroke kedua pada lansia, antara lain:

1. Kendalikan Tekanan Darah Tinggi: Pengendalian tekanan darah tinggi merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko stroke kedua. Perubahan gaya hidup sehat dan penggunaan obat-obatan dapat membantu menangani hipertensi.

2. Pantau dan Kelola Kolesterol: Menjaga kadar kolesterol dalam batas normal membantu mencegah penumpukan plak dalam pembuluh darah. Diet rendah kolesterol, olahraga teratur, dan jika perlu, obat penurun kolesterol, dapat membantu mengelola risiko stroke.

3. Kurangi Kolesterol dan Lemak Jenuh: Merokok tidak hanya meningkatkan risiko stroke, tetapi juga merugikan kesehatan secara menyeluruh. Berhenti merokok secara drastis mengurangi risiko stroke dan menyediakan manfaat kesehatan jangka panjang.

4. Pengelolaan Diabetes: Pengelolaan diabetes melalui diet seimbang, olahraga teratur, dan jika diperlukan, obat-obatan, membantu menjaga kadar gula darah stabil, mengurangi risiko stroke yang terkait dengan kondisi ini.

5. Pertahankan Berat Badan Sehat: Kelebihan berat badan memicu sejumlah faktor risiko, termasuk tekanan darah tinggi dan diabetes. Menjaga berat badan ideal melalui diet sehat dan aktivitas fisik membantu mencegah stroke kedua.

6. Konsumsi Buah dan Sayur: Fokus pada diet kaya buah, sayur, biji-bijian utuh, dan lemak sehat seperti yang ditemukan dalam ikan dan minyak zaitun. Diet Mediterania, dengan penekanan pada makanan tersebut, dapat mendukung kesehatan pembuluh darah.

7. Rutin Berolahraga: Aktivitas fisik teratur, seperti berjalan kaki, berenang, atau bersepeda, dapat meningkatkan sirkulasi darah, mengendalikan berat badan, dan memperkuat jantung, secara efektif mengurangi risiko stroke.

8. Konsumsi Alkohol Secara Bijak: Minum alkohol dalam batas moderat atau menghindarinya dapat mengurangi risiko stroke, terutama jenis iskemik.

9. Pengobatan Sleep Apnea Obstruktif (OSA): Jika Anda mengalami sleep apnea obstruktif, pengobatan seperti penggunaan alat CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) dapat membantu menjaga saluran napas terbuka, mengurangi risiko stroke.

10. Hindari Obat-obatan Terlarang: Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan metamfetamin dapat meningkatkan risiko stroke. Menghindari sepenuhnya penggunaan obat-obatan terlarang adalah langkah kunci untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan mencegah stroke kedua.

Pentingnya Pemantauan Kesehatan Berkala

Pemantauan kesehatan berkala menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan stroke kedua pada lansia. Pemantau kesehatan berkala dapat membantu mengevaluasi efektivitas langkah-langkah pencegahan yang telah dilakukan dan mengidentifikasi perubahan kondisi kesehatan.

Berikut adalah beberapa pemantauan kesehatan berkala yang dapat Anda lakukan guna menjaga kesehatan lansia dan mengurangi risiko terjadinya stroke kedua, antara lain:

1. Tekanan Darah: Pemantauan tekanan darah secara berkala sangat penting untuk mencegah stroke kedua. Pengukuran tekanan darah yang teratur memungkinkan deteksi dini perubahan dan adopsi tindakan preventif, seperti perubahan gaya hidup atau penggunaan obat antihipertensi.

2. Kadar Kolesterol: Kolesterol tinggi dapat menyebabkan penyumbatan arteri, yang dapat menjadi pemicu serangan stroke. Pemeriksaan darah berkala membantu menilai tingkat kolesterol dan memungkinkan penyesuaian diet, olahraga, atau penggunaan obat-obatan jika diperlukan.

3. Gula Darah (Diabetes): Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stroke. Pemantauan gula darah secara teratur membantu mengelola kondisi diabetes dan mencegah komplikasi yang dapat meningkatkan risiko stroke. Pengendalian gula darah melibatkan pengaturan diet, obat-obatan, dan gaya hidup sehat.

4. Berat Badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT): Obesitas merupakan faktor risiko untuk stroke, dan pemantauan berat badan serta IMT membantu mencegah peningkatan berat badan yang tidak sehat. Pemeliharaan berat badan yang sehat melalui kombinasi diet seimbang dan aktivitas fisik dapat mengurangi risiko stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya.

5. Gaya Hidup Sehat: Pemantauan pola hidup secara keseluruhan melibatkan evaluasi kebiasaan makan, tingkat aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Edukasi dan konseling terkait perubahan gaya hidup sehat dapat membantu lansia mengadopsi kebiasaan yang mendukung kesehatan jantung dan mengurangi risiko stroke kedua.

Baca Artikel Selanjutnya : Gerakan Olahraga untuk Membantu Lansia Pasca Stroke

Ciri-ciri Serangan Stroke Kedua

Serangan stroke kedua dapat menunjukkan gejala yang serupa dengan serangan pertama atau justru berbeda. Penting bagi seseorang untuk mengenali ciri-ciri tersebut guna mendapatkan perawatan darurat secepat mungkin. Berikut adalah beberapa gejala serangan stroke kedua yang perlu diwaspadai meliputi:

1. Terasa Mati Rasa atau Lemah yang Datang Tiba-tiba, Terutama pada Satu Sisi Tubuh: Mati rasa atau kelemahan yang muncul secara mendadak, terutama jika hanya mempengaruhi satu sisi tubuh, dapat menjadi tanda serangan stroke kedua.

2. Wajah Terkulai, Terutama pada Satu Sisi: Wajah yang terlihat terkulai, terutama pada satu sisi, bisa menjadi indikasi serangan stroke, gejala ini membutuhkan perhatian segera.

3. Kebingungan Mendadak: Kebingungan tiba-tiba adalah gejala serangan stroke yang sering terjadi. Seseorang mungkin mengalami kesulitan memahami situasi atau lingkungan sekitarnya.

4. Kesulitan Berbicara atau Mengambil Keputusan: Kesulitan berbicara atau membuat keputusan merupakan tanda serangan stroke yang serius. Hal ini dapat mencakup sulitnya mengucapkan kata-kata atau mengorganisir pikiran.

5. Sakit Kepala Mendadak dan Parah yang Berbeda dari Biasanya: Munculnya sakit kepala yang mendadak dan parah, yang berbeda dari pola sakit kepala biasa seseorang, dapat menjadi pertanda serangan stroke kedua.

6. Pusing, Kehilangan Keseimbangan, Koordinasi Rendah, atau Kesulitan Berjalan: Gejala ini mencakup rasa pusing, kehilangan keseimbangan, koordinasi rendah, atau kesulitan berjalan, yang dapat menjadi tanda serangan stroke yang sedang berlangsung.

7. Kesulitan Melihat: Kesulitan melihat, baik kabur atau kehilangan penglihatan pada salah satu mata, dapat menjadi gejala serangan stroke yang perlu segera diatasi.

Apa yang Menyebabkan Serangan Stroke Berulang Lagi?

Mengalami satu serangan stroke menjadi faktor risiko terjadinya serangan stroke berulang. Secara umum, penyebab serangan stroke berulang hampir sama dengan penyebab serangan stroke pertama. Terdapat dua jenis serangan stroke yang dapat terjadi, yaitu:

1. Stroke Iskemik: Serangan stroke iskemik terjadi ketika terdapat penyumbatan pada pembuluh darah, mengakibatkan otak kekurangan pasokan darah dan oksigen. Faktor risiko untuk jenis ini melibatkan diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok, dan obesitas.

2. Stroke Hemoragik: Stroke hemoragik terjadi ketika terjadi pendarahan pada pembuluh darah yang menyuplai darah ke otak. Cedera pada arteri utama atau pecahnya aneurisma dapat menjadi penyebab jenis stroke ini. Faktor risiko meliputi cedera tiba-tiba maupun tekanan darah tinggi.

Pentingnya Aktivitas Fisik dalam Mencegah Stroke Kedua

Aktivitas fisik memegang peran penting dalam mencegah serangan stroke kedua. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rutin berolahraga dapat mengurangi faktor risiko stroke. Selain itu, olahraga secara konsisten dapat membantu menjaga berat badan, kontrol gula darah, dan peningkatan kondisi fisik tubuh.

Latihan yang Aman dan Efektif untuk Lansia

Latihan fisik memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan lansia dan mencegah serangan stroke berulang. Namun, penting untuk memilih latihan yang aman dan sesuai dengan kondisi kesehatan lansia. Berikut adalah tujuh latihan yang aman dan efektif untuk lansia, antara lain: 

1. Berjalan Cepat: Latihan ini meningkatkan denyut jantung, meningkatkan sirkulasi darah, dan dapat diintegrasikan ke dalam rutinitas harian dengan mudah.

2. Bersepeda: Olahraga ringan ini memberikan latihan aerobik tanpa memberikan tekanan berlebih pada sendi, ideal untuk lansia.

3. Angkat Beban Ringan: Latihan kekuatan membantu mempertahankan massa otot, mendukung fungsi sendi, dan memperbaiki postur tubuh.

4. Latihan Keseimbangan: Latihan seperti berdiri di satu kaki atau latihan yoga membantu meningkatkan keseimbangan dan koordinasi.

5. Latihan Peregangan: Peregangan membantu menjaga fleksibilitas otot dan sendi, mengurangi risiko cedera, dan meningkatkan rentang gerak.

6. Latihan Pernapasan: Teknik pernapasan yang baik dapat membantu meningkatkan kapasitas paru-paru dan mengurangi stres.

7. Senam Air: Latihan di dalam air memberikan resistensi ringan, mengurangi tekanan pada sendi, dan cocok untuk lansia dengan masalah sendi.

Baca Artikel Selanjutnya: Panggil Dokter Ke Rumah Untuk Lansia: Keunggulan , Biaya dan Cara Pemesanan

Mengatur Jadwal Aktivitas Fisik Rutin

Aktivitas fisik menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan lansia dan mencegah stroke kedua. Meskipun penting, berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai aktivitas fisik adalah langkah bijak, terutama jika Anda telah lama tidak berolahraga atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Berikut adalah panduan untuk mengatur jadwal aktivitas fisik rutin bagi lansia guna mencegah serangan stroke kedua, yaitu:

1. Aktivitas Setiap Hari: Lansia sebaiknya berusaha untuk beraktivitas setiap hari, bahkan jika itu hanya aktivitas ringan seperti berjalan-jalan. Aktivitas ringan secara teratur dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan.

2. Latihan Kekuatan, Keseimbangan, dan Fleksibilitas: Melibatkan diri dalam latihan yang meningkatkan kekuatan otot, keseimbangan, dan fleksibilitas setidaknya 2 kali seminggu. Ini dapat membantu mencegah jatuh dan meningkatkan kualitas hidup.

3. 150 Menit Aktivitas Moderat per Minggu: Lansia sebaiknya mencoba untuk melakukan setidaknya 150 menit aktivitas moderat setiap minggu, atau 75 menit aktivitas intensitas tinggi jika mereka sudah aktif sebelumnya, atau kombinasi keduanya.

4. Reduksi Waktu Duduk dan Berbaring: Mengurangi waktu yang dihabiskan duduk atau berbaring, serta memecah periode panjang tanpa gerakan dengan aktivitas fisik, dapat membantu meningkatkan sirkulasi dan mengurangi risiko stroke.

Jika ada kekhawatiran tentang jatuh, melakukan latihan untuk meningkatkan kekuatan, keseimbangan, dan fleksibilitas dapat membantu membangun kepercayaan diri dan ketangguhan pada kaki.

Kesimpulan

Lansia dengan faktor risiko lebih tinggi terhadap serangan stroke kedua, memerlukan pemahaman yang mendalam terkait faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dan tingginya kadar kolesterol. Oleh karena itu, manajemen dan pengendalian faktor-faktor ini menjadi kunci dalam strategi pencegahan. 

Selain itu, tindakan preventif, termasuk perubahan gaya hidup seperti kebiasaan makan sehat, rutin berolahraga, dan berhenti merokok, memegang peranan penting dalam melindungi kesehatan jantung dan mencegah kejadian stroke berulang. 

Homecare Dokter by Klinik Kirana menyediakan jasa layanan perawatan lansia (caregiver) di rumah dengan tenaga kesehatan yang prima, ramah, dan profesional. Anda dapat memesan layanan perawatan lansia di rumah melalui layanan Homecare Dokter disini: Pesan Layanan Perawatan Lansia.

Artikel ini disusun oleh Tim Medis Klinik Kirana dan sudah ditinjau oleh: dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca proses editorial Klinik Kirana disini: Proses Editorial

 

  • si:
  • Cleveland Clinic. Stroke. Diakses pada 16/12/2023, dari https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/5601-stroke
  • Cleveland Clinic Health Essentials. How to Prevent a Second Stroke. Diakses pada 16/12/2023, dari https://health.clevelandclinic.org/how-to-prevent-a-second-stroke
  • Harvard Health Publishing by Harvard Medical School. 7 things you can do to prevent a stroke. Diakses pada 16/12/2023, dari https://www.health.harvard.edu/womens-health/8-things-you-can-do-to-prevent-a-stroke
  • Healthline. Everything You Need to Know About Stroke. Diakses pada 16/12/2023, dari https://www.healthline.com/health/stroke
  • Healthline. Is Your Risk of Having a Stroke Different Based on Your Age Range? Diakses pada 16/12/2023, dari https://www.healthline.com/health/age-range-for-stroke
  • Mayo Clinic. Stroke. Diakses pada 16/12/2023, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stroke/symptoms-causes/syc-20350113
  • Medical News Today. Recurrent strokes: What to know. Diakses pada 16/12/2023, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/recurrent-strokes
  • NHS. Physical activity guidelines for older adults. Diakses pada 16/12/2023, dari https://www.nhs.uk/live-well/exercise/exercise-guidelines/physical-activity-guidelines-older-adults/
  • WebMD. Best Exercises for Senior Citizens. Diakses pada 16/12/2023, dari https://www.webmd.com/healthy-aging/best-exercises-senior-citizens
Artikel Terkait
Artikel Terbaru