10 Jenis Batuk yang Harus Anda Tahu dan Waspadai Penyebabnya

Penyakit Umum January 4, 2024 Penulis : Mirna S
10 Jenis Batuk yang Harus Anda Tahu dan Waspadai Penyebabnya

Dalam artikel ini, kami akan membahas lebih lanjut tentang penyebab utama batuk, sepuluh jenis batuk yang perlu Anda ketahui beserta penyebabnya, seperti batuk kering, batuk berdahak, batuk akut, batuk kronis, batuk alergi, batuk asma, hingga batuk berdarah.

Batuk merupakan respons alami tubuh terhadap berbagai kondisi, mulai dari infeksi hingga iritasi saluran pernapasan. Mengetahui perbedaan antara berbagai jenis batuk dapat membantu Anda memahami penyebabnya dan mengambil langkah-langkah yang tepat dalam pengobatannya.

Apa Penyebab Utama Anda Batuk?

Penyebab yang paling umum adalah infeksi saluran pernapasan Atas dan Bawah, seperti flu, pilek, radang tenggorokan. Selain itu, batuk juga dapat terjadi akibat alergi atau penyakit kronis yang telah berlangsung dalam jangka panjang, seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan bronkitis kronis.

Batuk umumnya disertai dengan tanda dan gejala lain, seperti pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, sesak napas, mengi (napas berbunyi), dan perut mulas. Berdasarkan lama terjadinya, batuk dapat berlangsung selama kurang dari 3 minggu hingga lebih dari 8 minggu.

1. Batuk Kering

Batuk kering, atau juga disebut batuk non-produktif, adalah jenis batuk yang tidak menghasilkan lendir. Sensasi gatal di tenggorokan sering kali memicu refleks batuk, menyebabkan batuk yang terus-menerus. Batuk kering dapat menjadi tantangan karena sulit diatasi, bahkan dapat berkembang menjadi serangan batuk yang berkepanjangan.

Secara umum, penyebab batuk kering terjadi karena adanya peradangan atau iritasi di saluran pernapasan, namun tidak ada atau hanya sedikit lendir yang dapat dikeluarkan. Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti pilek atau flu, merupakan salah satu penyebab umum batuk kering.

Batuk kering dapat berlangsung beberapa minggu, hingga flu atau pilek sembuh sepenuhnya. Selain itu, batuk kering juga dapat disebabkan oleh kondisi seperti:

  • Laringitis: Kondisi peradangan pada laring atau pita suara. Infeksi virus seperti flu atau pilek, atau iritasi akibat merokok atau terpapar zat kimia tertentu, dapat menyebabkan laringitis.

  • Sakit Tenggorokan: Gejala umum yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi virus, bakteri, atau iritasi akibat merokok.

  • Croup: Infeksi saluran pernapasan atas yang umumnya memengaruhi anak-anak, menyebabkan pembengkakan di saluran udara di bawah pita suara. Virus seperti virus parainfluenza umumnya menjadi penyebab croup.

  • Tonsilitis: Peradangan pada amandel, yang dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.

  • Sinusitis: Peradangan pada dinding sinus yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau alergi.

  • Asma: Penyakit kronis pada saluran pernapasan yang menyebabkan penyempitan dan peradangan. Pemicu asma dapat bervariasi, termasuk infeksi pernapasan, alergi, atau paparan iritan.

  • Alergi: Terjadi ketika sistem kekebalan tubuh merespons zat yang sebenarnya tidak berbahaya sebagai ancaman.

  • Penyakit Refluks Asam Lambung (GERD): Terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan iritasi.

  • Penggunaan Obat Tertentu, Terutama ACE Inhibitor: Digunakan untuk mengatasi tekanan darah tinggi (hipertensi), dapat menyebabkan batuk kering sebagai efek samping.

  • Paparan Zat Iritan seperti Polusi Udara, Debu, atau Asap Rokok: Dapat merangsang saluran pernapasan dan menyebabkan batuk.

2. Batuk Berdahak

Batuk berdahak, atau juga disebut batuk produktif, adalah jenis batuk yang biasanya mengeluarkan lendir dari paru-paru. Jika Anda mengalami batuk berdahak, mungkin merasa seperti ada benda asing di belakang tenggorokan. Mungkin juga terasa seperti ada sesuatu yang menetes ke tenggorokan atau dada Anda. Beberapa kali, batuk Anda mungkin membawa lendir ke dalam mulut. Beberapa kondisi dapat menjadi penyebab batuk berdahak, antara lain:

  • Pilek atau Flu Biasa: Batuk berdahak sering kali terjadi sebagai respons terhadap infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), seperti pilek atau flu.

  • Pneumonia: Infeksi pada paru-paru dapat menyebabkan produksi lendir yang lebih banyak, mengakibatkan batuk berdahak.

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Bronkitis Kronis, atau Emfisema: Kondisi-kondisi ini dapat memicu produksi lendir yang berlebihan, menyebabkan batuk berdahak.

  • Bronkitis Akut: Infeksi pada bronkus dapat menyebabkan batuk berdahak, terutama pada fase akut penyakit.

  • Asma: Penyakit pernapasan kronis ini dapat menyebabkan peradangan dan produksi lendir berlebihan, menghasilkan batuk berdahak.

Baca Artikel Selanjutnya: Batuk Berdahak: Penyebab, Cara Mengatasi dan Rekomendasi Obat

Lama batuk dapat menjadi petunjuk penting terhadap penyebabnya. Batuk berdahak bisa bersifat akut, berlangsung kurang dari 3 minggu, atau bersifat kronis, berlangsung lebih dari 8 minggu pada orang dewasa. Batuk berdahak sering kali disertai dengan gejala lain, seperti pilek, postnasal drip, dan kelelahan.

3. Batuk Akut

Batuk akut merupakan jenis batuk yang berlangsung kurang dari 3 minggu dan umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Jenis batuk ini dapat bersifat produktif (menghasilkan lendir) atau non-produktif (kering, tanpa lendir). 

Batuk akut juga sering disebabkan oleh penyakit ringan dan sembuh dalam beberapa minggu. Meskipun umumnya berlangsung kurang dari 3 minggu, dalam beberapa kasus, seperti setelah infeksi saluran pernapasan, batuk dapat tetap berlanjut antara 3 hingga 8 minggu. Batuk akut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk:

  • Iritan Lingkungan: Seperti asap rokok, debu, atau gas beracun.

  • Alergen: Seperti serbuk sari, jamur, debu, atau bulu hewan peliharaan.

  • Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA): Seperti pilek, flu, atau infeksi sinus.

  • Infeksi Saluran Pernapasan Bawah (ISPB): Seperti bronkitis (peradangan pada dinding saluran bronkus) atau pneumonia (peradangan pada paru-paru).

  • Eksaserbasi Kondisi Kronis: Seperti asma, dimana intensitas batuk dapat meningkat.

  • Kondisi Serius: Seperti emboli paru-paru, yang memerlukan perhatian medis segera.

4. Batuk Kronis

Batuk kronis adalah jenis batuk yang berlangsung lebih dari 8 minggu pada orang dewasa dan lebih dari 4 minggu pada anak-anak. Identifikasi penyebab batuk kronis kadang sulit, namun dapat menjadi gejala dari kondisi kesehatan yang lebih serius.

Untuk membantu mengidentifikasi penyebab batuk kronis Anda, dokter atau penyedia layanan kesehatan mungkin perlu melakukan beberapa tes atau bahkan merekomendasikan Anda untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis. Berbagai faktor dapat menjadi penyebab batuk kronis, termasuk:

  • Merokok: Kebiasaan merokok adalah penyebab umum batuk kronis, dan berhenti merokok dapat membantu memperbaiki kondisi ini.

  • Kondisi Pernapasan Kronis: Seperti bronkitis kronis, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

  • Pemicu Lingkungan: Paparan terhadap iritan lingkungan seperti polusi udara atau zat kimia tertentu.

  • Penyakit Refluks Asam Lambung (GERD): Naiknya asam lambung ke kerongkongan dapat menyebabkan iritasi dan batuk.

  • Obat ACE Inhibitor: Jenis obat tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat menyebabkan batuk sebagai efek samping.

  • Sleep Apnea Obstruktif: Gangguan tidur dimana pernapasan terhenti sejenak selama tidur.

  • Aspirasi: Masuknya benda asing atau cairan ke dalam saluran pernapasan.

  • Kanker Paru-paru: Meskipun lebih jarang, batuk kronis dapat menjadi tanda kanker paru-paru.

5. Batuk Croup

Batuk croup merujuk pada infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang menyebabkan penyempitan, membuat pernapasan menjadi lebih sulit. Croup juga menyebabkan batuk yang terdengar seperti menggonggong.

Batuk dan gejala lainnya dari croup disebabkan oleh pembengkakan dan iritasi di sekitar kotak suara (laring), pipa udara (trakea), dan tabung bronkial (bronki). Ketika batuk memaksa udara melalui jalur yang menyempit, pita suara yang membengkak menghasilkan suara seperti menggonggong.

Anak-anak berusia antara 6 bulan hingga 3 tahun memiliki risiko tertinggi terkena batuk croup. Karena saluran pernapasan anak-anak yang kecil, mereka cenderung mengalami lebih banyak gejala ketika terkena batuk croup. Croup jarang terjadi pada anak-anak di atas usia 6 tahun.

Batuk croup biasanya disebabkan oleh infeksi virus, terutama oleh virus parainfluenza. Anak Anda dapat terinfeksi virus dengan menghirup droplet (cipratan liur) pernapasan yang terinfeksi saat batuk atau bersin ke udara.

Partikel virus dalam droplet (cipratan liur) ini juga dapat bertahan hidup di mainan dan permukaan lainnya. Jika anak Anda menyentuh permukaan yang terkontaminasi virus dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulutnya, infeksi dapat terjadi.

6. Batuk Psikogenik

Batuk psikogenik, atau juga disebut batuk kebiasaan, adalah batuk yang persisten tanpa penyebab fisik yang jelas. Batuk ini biasanya merupakan kebiasaan yang berkembang setelah infeksi atau masalah lain yang menyebabkan anak batuk.

Anak terus batuk setelah penyebab awalnya menghilang. Meskipun biasanya tidak ada penyebab fisik, penting untuk menyadari bahwa anak-anak tidak batuk dengan sengaja. Batuk psikogenik dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan bulan. 

Batuk psikogenik disebabkan oleh faktor psikologis atau emosional, bukan oleh penyakit fisik. Batuk psikogenik dapat dikaitkan dengan stres atau kecemasan pada beberapa anak, atau terjadi sebagai respons terhadap faktor psikologis lainnya. Beberapa tanda atau gejala batuk psikogenik, antara lain:

  • Batuk psikogenik biasanya muncul setelah infeksi saluran pernapasan yang menyebabkan batuk bersama dengan gejala pilek lainnya.

  • Batuk psikogenik biasanya terdengar cukup kasar.

  • Tidak ada dahak yang dikeluarkan.

  • Tidak ada gejala infeksi lainnya seperti demam atau hidung berair.

  • Anak cenderung batuk secara teratur, bahkan setiap beberapa detik.

  • Batuk menghilang ketika anak teralihkan atau tertidur, dan tidak memburuk dengan olahraga.

Penting untuk mengetahui kapan batuk bersifat psikogenik, diagnosis yang keliru dapat menyebabkan anak mengonsumsi obat yang tidak perlu. Oleh karena itu, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis pernapasan anak jika batuk berlangsung lebih dari beberapa minggu.

7. Batuk Pertusis (Batuk Rejan)

Batuk pertusis atau batuk rejan adalah infeksi saluran pernapasan yang sangat mudah menular. Pada banyak orang, batuk rejan ini ditandai dengan batuk yang parah, diikuti munculnya bunyi “whoop” atau teriakan bernada tinggi saat menarik napas sebelum batuk.

Sebelum vaksin dikembangkan, batuk pertusis dianggap sebagai penyakit anak-anak. Saat ini, batuk rejan lebih banyak menyerang anak-anak yang masih terlalu muda untuk menyelesaikan seluruh rangkaian vaksinasi, serta remaja dan orang dewasa yang kekebalan tubuhnya telah menurun.

Batuk pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh jenis bakteri yang disebut Bordetella pertussis. Ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, tetesan kecil yang mengandung kuman disemprotkan ke udara dan dihirup ke dalam paru-paru oleh siapa pun yang berada di sekitarnya.

8. Batuk Alergi

Menurut American College of Allergy, Asthma, and Immunology (ACAAI), seseorang yang sensitif terhadap debu, bulu hewan peliharaan, serbuk sari, jamur, atau alergen (zat pemicu reaksi alergi) lainnya, kemungkinan akan mengalami batuk sebagai akibat dari alergi.

Batuk sesekali adalah hal yang normal. Beberapa orang mungkin mendapati bahwa batuk terjadi lebih sering di lingkungan tertentu atau selama musim tertentu. Hal ini bisa berarti bahwa batuk adalah gejala dari reaksi alergi.

Alergi adalah suatu kondisi dimana sistem kekebalan tubuh seseorang bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang biasanya tidak berbahaya. Seseorang dengan alergi mungkin akan sensitif terhadap makanan, serbuk sari, atau bahkan sengatan serangga.

Salah satu gejala alergi adalah batuk, hal ini sering kali disebabkan oleh iritasi dan peradangan pada saluran pernapasan yang berkembang sebagai bagian dari respons imun terhadap alergen. Beberapa pemicu umum yang dapat menyebabkan batuk alergi meliputi:

  • Serbuk Sari Musiman (Rinitis Alergi): Penyebab batuk alergi adalah serbuk sari dari tumbuhan yang melepaskan serbuk sari ke udara saat musim berbunga. Ini dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang yang sensitif, terutama pada musim semi atau musim gugur.

  • Spora Jamur: Jamur menghasilkan spora yang tersebar di udara. Spora jamur ini dapat memicu reaksi alergi pada beberapa individu, termasuk batuk.

  • Bulu, Urin, atau Ludah Hewan Peliharaan: Bulu, urin, atau ludah hewan peliharaan dapat mengandung alergen yang dapat memicu respon alergi. Kontak atau paparan terhadap alergen ini dapat menyebabkan batuk pada individu yang rentan.

  • Debu dan Tungau Debu: Partikel debu, terutama tungau debu, dapat menjadi pemicu alergi. Tungau debu hidup di debu rumah dan dapat menyebabkan reaksi alergi, termasuk batuk, pada orang yang alergi terhadapnya.

  • Kecoa: Kotoran dan potongan tubuh kecoa mengandung protein yang dapat menjadi pemicu alergi pada beberapa individu. Paparan terhadap kecoa dapat menyebabkan gejala alergi, termasuk batuk.

9. Batuk Asma

Batuk asma adalah jenis asma dimana gejala utamanya adalah batuk kering dan non-produktif (tidak mengeluarkan lendir dari saluran pernapasan). Orang dengan batuk asma sering kali tidak memiliki gejala asma “klasik” lainnya, seperti mengi (napas berbunyi) atau sesak napas.

Siapa pun dapat terkena batuk asma kapan saja, tetapi batuk ini umum terjadi pada anak kecil yang menderita asma pada masa kanak-kanak. Batuk asma adalah salah satu penyebab batuk kronis yang paling umum, yaitu batuk yang berlangsung dari 6–8 minggu.

Batuk pada penderita asma bisa terjadi pada siang hari atau malam hari. Jika Anda mengalami asma pada malam hari, ini dapat mengganggu tidur. Beberapa pemicu umum yang dapat menyebabkan batuk asma meliputi:

  • Alergen luar ruangan, seperti serbuk sari dari rumput, pohon, dan gulma.

  • Alergen dalam ruangan, seperti bulu hewan peliharaan, tungau debu, dan jamur.

  • Beberapa obat-obatan tertentu atau bahan tambahan makanan.

  • Zat iritan di udara, seperti asap, polusi udara, dan uap kimia, atau bau yang kuat, seperti parfum.

  • Pilek, flu atau penyakit lainnya.

  • Olahraga (meskipun penderita asma mendapatkan manfaat dari olahraga, jika asma menghalangi Anda berolahraga, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter).

  • Stres.

  • Kondisi cuaca, seperti udara dingin, panas dan lembab, atau pola cuaca yang berubah dengan cepat.

10. Batuk Berdarah

Batuk berdarah atau hemoptisis dapat disebabkan oleh berbagai kondisi pada paru-paru. Darah yang dikeluarkan saat batuk dapat berwarna merah cerah atau merah muda, berbuih, atau mungkin bercampur dengan lendir.

Meskipun dalam jumlah kecil, batuk berdarah bisa menjadi tanda yang serius dan sering kali menjadi gejala dari suatu penyakit. Keparahan kondisinya tergantung pada seberapa banyak dan sering darah dikeluarkan. Darah yang dikeluarkan melalui batuk dapat berasal dari hidung, tenggorokan, saluran pernapasan atas, atau paru-paru.

Ketika seseorang mengalami penyakit pernapasan atau batuk yang kuat, hal ini dapat mengiritasi saluran udara dan berpotensi menyebabkan batuk berdarah. Penyebab umum batuk berdarah meliputi:

  • Infeksi Saluran Pernapasan: Infeksi pernapasan seperti flu atau pilek bisa menjadi penyebab batuk berdarah, terutama jika batuk tersebut kuat atau berlangsung lama.

  • Asma: Penderita asma kadang-kadang mengalami batuk berdarah akibat iritasi dan peradangan pada saluran udara.

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK): PPOK, termasuk bronkitis kronis dan emfisema, dapat menyebabkan batuk berdarah karena kerusakan paru-paru.

  • Bronkiektasis: Kondisi dimana saluran udara melebar dan terjadi infeksi berulang, yang dapat menyebabkan batuk berdarah.

  • Kanker Paru-paru: Salah satu tanda kanker paru-paru adalah batuk berdarah, meskipun tidak selalu demikian.

  • Bronkitis: Peradangan pada bronkus dapat menyebabkan batuk berdarah, terutama pada bronkitis kronis.

  • Pneumonia: Infeksi paru-paru dapat menyebabkan batuk berdarah, terutama jika terjadi kerusakan pada jaringan paru-paru.

  • Tuberkulosis: Penyakit infeksi ini dapat menyebabkan batuk berdarah, terutama pada tahap yang lebih parah.

Berobat di Rumah dengan Homecare Dokter

Homecare Dokter by Klinik Kirana menawarkan layanan kesehatan di rumah yang praktis dan tepercaya, seperti dokter panggilan ke rumah, suster panggilan ke rumah, infus ke rumah, dll. Homecare Dokter juga berkomitmen untuk menyediakan tenaga medis profesional dan berpengalaman sesuai kebutuhan Anda.

Dengan berkonsultasi di Homecare Dokter, Anda dapat dengan cepat mengidentifikasi penyebab jenis batuk yang Anda alami, mendapatkan penanganan yang tepat, dan mengobati batuk sesuai dengan penyebabnya. Yuk, segera hubungi kami disini: Layanan Dokter ke Rumah.

Artikel ini disusun oleh Tim Medis Klinik Kirana dan sudah ditinjau oleh: dr. Hadi Purnomo - Kepala Dokter Klinik Kirana

Baca proses editorial Klinik Kirana disini: Proses Editorial

 

  • Image by benzoix on Freepik: https://www.freepik.com/free-photo/asian-woman-coughing-feeling-sick-sitting-blanket-with-scard-cold-apartment-saving-heati_36505250.htm
  • American College of Allergy, Asthma, and Immunology (ACAAI). Allergic Conditions. Diakses pada 05/01/2024, dari https://acaai.org/allergies/allergic-conditions/
  • American College of Allergy, Asthma, and Immunology (ACAAI). Asthma Cough. Diakses pada 05/01/2024, dari https://acaai.org/asthma/symptoms/asthma-cough/
  • American College of Allergy, Asthma, and Immunology (ACAAI). Cough. Diakses pada 05/01/2024, dari https://acaai.org/allergies/symptoms/cough/
  • Children’s Respiratory Doctor. What is a Habit Cough? Diakses pada 05/01/2024, dari https://www.childrensrespiratorydoctor.co.uk/what-is-a-habit-cough.php
  • Healthline. What Does My Type of Cough Mean? Diakses pada 04/01/2024, dari https://www.healthline.com/health/types-of-coughs
  • Healthline. When to See a Doctor About Your Cough. Diakses pada 04/01/2024, dari https://www.healthline.com/health/cough-when-to-see-doctor
  • Healthline. Why Am I Coughing Up Blood? Diakses pada 05/01/2024, dari https://www.healthline.com/health/coughing-up-blood
  • Mayo Clinic. Cough. Diakses pada 04/01/2024, dari https://www.mayoclinic.org/symptoms/cough/basics/definition/sym-20050846
  • Mayo Clinic. Coughing up blood. Diakses pada 05/01/2024, dari https://www.mayoclinic.org/symptoms/coughing-up-blood/basics/definition/sym-20050934
  • Mayo Clinic. Croup. Diakses pada 04/01/2024, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/croup/symptoms-causes/syc-20350348
  • Mayo Clinic. Whooping cough. Diakses pada 05/01/2024, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/whooping-cough/symptoms-causes/syc-20378973
  • Medical News Today. Allergy cough: Triggers, home treatment, and when to see a doctor. Diakses pada 05/01/2024, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/allergy-cough
  • Medical News Today. Types of coughs: What do they mean? Diakses pada 04/01/2024, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/327142
  • Medical News Today. What is cough variant asthma? Diakses pada 05/01/2024, dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/314142
  • National Health Service (NHS). Allergic rhinitis. Diakses pada 05/01/2024, dari https://www.nhs.uk/conditions/allergic-rhinitis/
  • Verywell Health. The 3 Different Types of Cough: What They Mean. Diakses pada 04/01/2024, dari https://www.verywellhealth.com/what-is-causing-my-cough-1191888
  • WebMD. Cough-Variant Asthma. Diakses pada 05/01/2024, dari https://www.webmd.com/asthma/cough-variant-asthma
Artikel Terkait
Artikel Terbaru